Peringatan Hari Lahir Pancasila

Peringatan Hari Lahir Pancasila

Garuda Pancasila

Tadi siang anakku pulang sekolah . Sepanjang jalan, ia menyanyikan lagi Garuda Pancasila. Mungkin, hari ini gurunya mengajarkannya lagu ini tadi pagi. Tidak begitu jelas syairnya. Maklum anakku masih celat, belum genap 4 tahun. Sampai di rumah gantian aku yang nyanyi.

Aku masih hapal lagu Garuda Pancasila. Garuda Pancasila, akulah pendukungmu. Patriot Proklamasi sedia berkorban untukmu. Pancasila dasar negara. Rakyat makmur adil sentosa. Pribadi bangsaku. Ayo maju,maju. Ayo maju, maju. Ayo, maju-maju. Seingatku, lagu ini sudah jamak dikuasai oleh seorang anak sebelum sekolah TK. Lalu Bu Guru akan mengajarkan lagu wajib lainnya, lagu nasional, lagu daerah dan sebagainya. Itu dulu. Sekarang, sudah banyak yang tidak kuhapal.

Soal hapal menghapal, tidak ada yang lebih berkesan selain pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), di kelas 3 SMP dulu. Bu Din, nama guruku. Jauh sebelum beliau masuk kelas untuk mulai pelajaran, suasana kelas yang tadinya rame dan meriah berubah jadi sepi seperti kuburan. Auranya angker. Setelah kami mengucap salam, “Selamat siang, Bu!” tanpa dikomando, salah satu dari kami harus maju ke depan untuk mengucapkan 36 butir-butir Pancasila. Jika tidak ada yang mau maju, beliau yang akan memanggil kami secara acak. Tentu saja ada perbedaan nilai. Jika maju dengan sukarela, nilainya lebih tinggi. Jika dengan sukapaksa, maka nilainya turun sedikit. Jika lancar dan kurang dari 10 menit nilainya lebih tinggi daripada yang lupa-lupa ingat. Hampir semua nilai kami bagus-bagus. Karena kami hapal.

Kami hafal karena kami belajar dengan sungguh. Kami belajar sungguh-sungguh karena dipaksa. Kami mau dipaksa karena gurunya killer. Bukan  terutama ingin dapat nilai baik. Ya, itu dulu. Barulah tahu, puluhan tahun kemudian, ternyata Bu Din orangnya baik dan ramah. Terutama kepada murid-murid yang ganteng.

Seingatku, baik ketika mau masuk SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi harus mengikuti penataran P4. Semuanya, tidak terkecuali. Baik siswa atau mahasiswa, yang ganteng atau tidak. P4 itu singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Kami ditatar seminggu lamanya. Dan, kalau mau dapat pekerjaan tetap, apalagi yang pegawai negeri, konon, masih juga dikenai penataran P4. Ya, suka tidak suka. Rela tidak rela harus dijalani. Seolah itu adalah sabda alam yang tidak boleh dibantah. Berani membantah terima sendiri akibatnya.

Tibalah jaman reformasi, tahun 1998. Tidak ada lagi pelajaran PMP atau pelajaran PSPB, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Tentu saja kita kenal banget tokohnya. Tidak ada lagi penataran P4 bagi siswa atau mahasiwa. Ini semua karena hal-hal yang berbau indoktrinasi Pancasila dianggap warisan Orde Baru. Dan gema yang didengungkan adalah berantas korupsi, kolusi dan nepotisme, yang menjangkiti para pejabat dan cukong-cukongnya. Lagu Garuda Pancasila dipelesetkan, “…rakyat makmur adilnya kapan…?”

Setelah 13 tahun era reformasi, korupsi semakin merajalela. Kolusi semakin kenceng. Nepotisme tidak lagi disembunyikan. KKN menjadi akronim yang mempersatukan penguasa-pengusaha, dan pejabat-rakyat menjadi kesatuan keluarga yang semakin tahu sama tahu. Gotong-royong bekerjasama kompak saling menghisap.

Hari ini dirayakan Hari Lahir Pancasila. Beda lagi dengan peringatan hari kesaktiannya lho, ya… Di TV Bapak Presiden berpidato tentang Pancasila dan Bung Karno sebagai penggagasnya. Disiarkan juga, di Blitar perayaan Kelahiran Pancasila dengan perarakan gunungan tumpeng untuk direbut berkatnya oleh masyarakat setempat. Juga di lain tempat. Begitu juga dialog-dialog tentang Pancasila diselenggarakan. Inti yang kutangkap adalah pengandaian, “Seandainya nila-nilai Pancasila diamalkan tentu tidak akan terjadi keadaan yang porakporanda seperti sekarang ini.” Tidak ada yang salah dengan pengandaian, mimpi dan cita-cita. Apalagi demi kebaikan hidup berbangsa. Dibalik ini semua sadar atau tidak, ini adalah pengakuan terbuka bahwa Pancasila belum diamalkan, untuk tidak mengatakan tidak dilakukan. Oleh siapa? Ya oleh saya, saya dan saya.

Sekarang, semakin banyak orang yang meratapi keadaan. Mudah-mudahan ratapan ini melahirkan pertobatan bersama, bukan meratap karena belum mendapat bagian.

Daripada meratap-ratap, mari kita dengarkan tanya jawab model cerdas cermat P4:

Tanya   : Bagaimana cara keluar dari situasi yang begini?
Jawab   : Nilai-nilai Pancasila harus diamalkan

Tanya   : Bagaiamana agar nilai-nilai Pancasila diamalkan?
Jawab   : Maka nilai-nilai Pancasila perlu dihayati terlebih dulu.

Tanya   : Bagaimana agar nilai-nilai Pancasila dihayati?
Jawab   : Maka nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan terlebih dahulu.

Tanya   : Bagaimana cara menanamkan nila-nilai Pancasila?
Jawab   : (Jawabannya kemresek, tidak jelas. Malah pada ngomong sendiri, pada bengong sendiri. Ada yang bilang perlu kurikulum baru agar masuk kembali pelajaran PMP atau budi pekerti. Ada yang bilang perlu penataran P4 kayak dulu, karena banyak manfaatnya. Ada juga yang ngomong kalau indoktrinasi jaman dulu itu bagus…eh, sambil takut takut kecut dibilang barisan RMS, Rindu Masa Silam…Tapi ada juga yang berani ngomong terus-terang kalau masa lalu itu lebih baik dari jaman kini. Berdasar survey katanya.. Kok tanya jawabnya mirip PPAGKJ ya…)

Aku dan anakku menyanyi Garuda Pancasila di kamar mandi.
Ini nyanyi apa indoktrinasi, sih!?

‘TUK’

TUK
Bibit nambal timba bocor

Teater Lingkar mempersembahkan ‘TUK’. Sebuah pementasan teater berbahasa Jawa dengan naskah yang ditulis Bambang Widoyo, Sp., dan disutradarai Maston. Ini merupakan pementasan Teater Lingkar yang kesekian ratus. Hanya untuk menegaskan sehingga frase kesekian ratus perlu dicantumkan untuk menggambarkan bahwa pementasan ini dilakukan oleh kelompok teater yang telah memiliki jam terbang tinggi. Akibatnya, ada sebuah pengharapan yang dinantikan bahwa pentas malam ini akan dilakukan oleh aktor-aktris kawakan. Continue reading

Wisanggeni Lair

Wisanggeni Lair
Gareng, Janaka, Dresanala, Wisanggeni

Malam Jumat Kliwon 1 Sura ini, Teater Lingkar di TBRS mempersembahkan lakon wayang kulit Wisanggeni Lair, dengan Ki dalang M Brahim. Tidak seperti  pentas Jumat Kliwonan yang lalu-lalu, tampaknya 1 Sura malam ini sedikit istimewa. Sebelum pentas Ki Dalang M Brahim berwawancara dengan beberapa budayawan dan seniman di panggung, di antara gamelan.Pentas baru dimulai sekitar setengah sepuluh malam. Kursi penonton belum penuh. Di depan kursi-kursi, karpet di bawah sudah berjejer penonton. Di karpet ini visual lebih jelas, namun audionya kurang. Jika ingin jelas audionya, mesti mendekat ke speaker yang ada di sudut-sudut ruang ini. Continue reading

Teror Bom

Nampaknya di Indonesia sering terjadi sesuatu yang berseri, meskipun itu bukan sinetron. Ada bom Bali I dilanjutkan dengan bom Bali seri II. Bom Mariot seri I dan sekarang telah diproduksi seri II. Ditambah dengan Ritz Carlton. Belum terhitung ledakan di Kedutaan Besar Australia, dll.

Besar harapan, tidak akan ada ledakan bom lagi, apalagi yang berseri. Semoga saja harapan ini tidak hanya tinggal harapan seperti yang sudah-sudah. Sulitkah untuk menghidupi harapan di bumi Indonesia? Siapa yang berani jamin? Yang menjamin tentu saja harapan. Siapa lagi? Continue reading